Published On: Mon, Apr 30th, 2012

Ubah Sampah jadi Tas

Share This
Tags

Memakai tas, dompet ,taplak meja, serta jas hujan dari rangkaian bungkus plastik minuman suplemen anak-anak atau kopi, siapa takut. Malah kesannya lebih unik, lo. Tidak percaya ? Coba dating ke ibu Rubiyati (53), warga LanggengsariRt. 03 RW II Desa Plantaran Kaliwungu Selatan dan tentu membelinya. Pasalnya, nenek 4 anak dengan 5 cucu ini, setiap hari memproduksi limbah plastik bungkus minuman suplemen anak-anak dan kopi. Harganya sangat terjangakau.Antara  3 hingga 10. 000 rupiah untuk tas tas dan dompet. Sedang untuk taplak meja, hanya 5 ribu rupiah. Dalam sehari, ia bisa memproduksi 5 sampai 7 tas.

“Kalau jas hujannya masih bingung memberi harga. Sebab saya masih memproduksi sedikit dan untuk dipakai sendiri, kata Rubiyati.

Istri Bundari (55), yang bekerja sebagai tukang bangunan ini mengaku, kalau ia sudah lama berprofesi sebagai tukang jahit pakaian. Namun mulai mencoba bereksperimen dengan membuat tas, dompet, taplak meja serta jas hujan ini, setelah pada tahun 2011 diajak oleh pengurus PNPM ke semarang, untuk melihat beberapa kerajinan yang terbuat dari limbah.

“Setelah itu saya berpikir, kalau di tempat kami banyak limbah plastik minuman anak-anak, maka saya mencoba membuat barang-barang seperti ini,” jelasnya.

Bahan dasar bahan tersebut, aku Rubiyati, didapat dari para penjual es dan kopi. Satu kilo bungkus kopi atau minuman suplemen anak, ia beli dengan harga 3 ribu rupiah. Dari bahan satu kilo itu, bisa digunakan untuk membuat tas seharga 10.000-an sebanyak 3 tas. Sedang untuk dompet bisa sekitar 6 sampai 7.

“Kalau untuk taplak meja bisa lima sampai enam, tergantung besar kecilnya,” akunya.

Rubiyati mengaku, sehari kerajinannya bisa laku minimal tiga. Yang membeli baru warga sekitar. Sistem menjualnya, juga ia titipkan ke warung-warung tetangga.

“Saya belum bisa menjual ke luar. Ini karena saya baru sendirian membuatnya. Takut kalau banyak pesanan, saya tidak bisa melayani,” tambahnya.

Untuk itu, Rubiyati, mencoba menularkan ilmunya kebeberapa ibu-ibu, terutama ibu-ibu PKK. Harapannya, setelah semua bisa, baru akan promosi ke luar.

Ketua unit pengelola Lingkungan (UPL) PNPM desa Plantaran Kaliwungu Selatan Satyo Winasito, mengaku bahwa Rubiyati adalah salah satu pilot projek program PNPM desa Plantaran. Nantinya, ia akan diberi tugas untuk melatih ibu-ibu yang ada di desa Plantaran. Diharap, nantinya bisa membentuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dari bahan dasar limbah plastik. Saat ini, pihaknya telah mengajak masyarakat supaya bisa memanfaatkan sampah. Selain untuk kebersihan lingkungan, sampah-sampah itu bisa dimanfaatkan untuk pupuk atau kerajinan. Diantaranya kerajinan tas, dompet, taplak meja dan hujan hujan dari limbah plastik bungkus minuman suplemen.

“Kami telah membuat beberapa tempat sampah. Untuk sampah basah dan kering kami pisahkan,” kata Satyo.

Satyo mengakui, saat ini pihaknya belum membantu menjualkan barang-barang kerajinan Rubiyati. Pasalnya, produksinya masih terbatas. (02)

 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

=